(…)

27Jul09

ini yang bikin sebal … sebagian diriku ingin pergi, sebagian ingin melebur kembali … abadi, tak pernah mati … wah, tak bisa terus2an spt ini.. bahaya, gawat, menular, mewabah.. coba aku berhenti, menolehmu sekali lagi .. ahh, ternyata kau masih belum pergi ..


dasar!

27Jul09

Jangan….

sekali lagi jangan…

(Tapi kau terus mengulanginya).

Ahhh, benar kan kataku.

DASAR bebal, bengal, dungu !!!

Kau memang tak pernah menurutiku. Sekarang, liat hasil perbuatanmu.

Ratapi saja,

Tangisi saja,

Sesali lebih baik…

tapi jangan lupa satu hal, PERBAIKI !!!


Kenalan

27Jul09

C : Kau tahu namaku? Tahu asalku? Tnggal lahirku? Hobiku? Hah, kau juga tahu kebiasaanku?
Ooo.. kau pasti temanku

C : Apa? Kau tahu masalahku?
Oo.. Kau pasti sahabatku

C : Hah? Beneran? Kau tau isi hatiku?

Ooo… Dasar Penipu !!!


lemah

15Jul09

Ketidakberdayaanku

Seperti ribuan kunang-kunang

Yang mencari cahaya selain yang berasal dari dirinya

Walaupun tahu, saat itu malam


Seperti biasa, kau tak menganggap aku

Padahal kau sempat membalas tajam tatapanku

Membiarkan aku dalam kebisuan yang semakin tak aku mengerti

Kenapa dengan sikapmu hari ini

Aku ingin menyapa

Aku ingin kau anggap ada

Walau kita hidup di jaman yang berbeda

Dan waktu yang berjeda-jeda

Salahkah aku menuruti kata emakku

Yang tak ingin lama-lama di sini

Hingga tak berat bebannya

Menanggung hidup adik-adikku nanti

Selalu kau bilang tak ada yang salah

Ini hanya karena jaman yang telah berubah

Hingga akhirnya kau bangga dengan duniamu,

dan aku terlena dalam duniaku

padahal kita dulu adalah satu

seperti biasa, kau tak menganggap aku

padahal aku sudah berdiri tepat

di belakangmu


maaf, kubiarkan kau menunggu

kusadar terlalu lama meninggalkan janji untukmu

itulah kenapa kuselalu lari, memalingkan muka, dan memakai topeng

jika bertemu denganmu

saat bertemu pun, aku hanya bisa menghabiskan rokokmu dan menyeruput pelan kopimu, dan seperti biasa mengikuti garis wajahmu diam-diam

maaf, kutinggalkan kau sendiri

diri ini dituntut waktu yang tak pernah berhenti

hidup di masa yang tidak kau kenali

dan terlena oleh mimpi-mimpiku sendiri

suatu saat nanti,

akan kupersembahkan apa yang kupendam selama ini

dengan bahasa yang lebih bisa kau pahami

maaf, kau harus menunggu lagi

maaf, kau harus sendiri lagi


Di sebuah surat kabar on-line, saya membaca pada tahun ini terpilih 3 pahlawan yang mendapat predikat pahlawan nasional, menyusul 141 nama pahlawan yang mendapat predikat serupa sebelumnya. Ketiga nama itu adalah Mohammad Natsir, Abdul Halim Iskandar, dan Sutomo.

Bung Tomo butuh waktu 27 tahun untuk menjadi pahlawan. Natsir, hanya membutuhkan 15 tahun. Sedangkan Abdul Halim butuh waktu 48 tahun.

Kalau boleh saya simpulkan, berarti pada tahun-tahun sebelumnya, bangsa ini masih belum mengakui mereka sebagai pahlawan. Ckk.. cKK.. cKk.. Terus mereka itu dianggap siapa ?
Memang, saya yakin, predikat sebagai pahlawan bukanlah tujuan dari beliau-beliau tersebut. Mereka berjuang bukan untuk sebuah gelar, tapi hanya ingin melihat merah putih berkibar bebas di negara ini. Tapi, yang saya baru tau, ternyata untuk menjadi seorang pahlawan, ternyata harus melalui sebuah prosedur khusus yang disaring oleh badan-badan yang terkait. Padahal, pada saat memutuskan berperang atau tidak, mereka tidak pernah memikirkan nyawa mereka. Yah, mungkin ini semua terkait dengan adanya biaya santunan buat keluarga pahlawan, yang nilainya mencapai 1,5 juta per bulan, sehingga perlu adanya penyaringan, sehingga dana yang keluar untuk memberi santunan untuk keluarga pahlawan tidak begitu banyak.
Kalau sudah berbau uang seperti ini, semuanya memang jadi susah.

Kemerdekaan ini tidak bisa dinilai dengan uang 1,5 juta rupiah.

Mohon maaf, saya hanya bisa maen kritik doang, gak penting…
^_^


Merdeka …

09Nov08

sukarno2photo12bung_tomohatta

Buat orang-orang yang tidak sempat aku kenal, siapa dan berapa pun jumlahnya

Yang telah rela menerima konsekuensi dari sebuah kata “Merdeka”

Walaupun masih besok, tapi Aku ingin menjadi orang yang pertama mengucapkannya

Selamat Hari Pahlawan

Maaph, tak ada kado yang indah untukmu

Di kampusku tak ada lagi upacara

Di kosku tak ada bendera

Di negeriku masih jauh dari kata Merdeka

Semoga 3 buah tanda seru yang ada di akhir kata MERDEKA !!!

tidak berubah menjadi banyak tanda tanya

MERDEKA ??????????????????


Walapun udah 3 tahun kuliah di sini, tapi aku baru tau hal ini barusan. Kalau aku katakan, pasti banyak orang yang menganggap aku ini guoblok buanggett.

images

Di setiap lampu pijar yang kita beli di toko, pasti tertera sebuah nilai yang memiliki satuan watt. Yang aku tahu, itu adalah sebuah besaran daya, atau energi per satuan waktu. Yang rumusnya adalah V x I, dan ada 3 jenis daya, yaitu daya nyata, daya reaktif, dan daya semu. ITU TEORINYA… Tapi, aku nggak tau apa arti nilai yang tertera pada nilai itu sesunguhnya. YANG KUTAU ITU CUMA DAYA, TITIK.

Memang nilai tersebut adalah nilai daya, tapi yang kutangkap selama ini, itu adalah nilai daya yang biasanya dikalikan dengan nominal rekening listrik yang harus kita bayar setiap bulannya. But, i’m wrong.

Ternyata, nilai daya yang tertera di situ menunjukkan daya yang dikeluarkan oleh lampu pijar, bukan daya yang diserap. Bingung??

Begini, daya yang diserap berasal dari listrik PLN, dan itulah yang menjadi tanggungjawab kita untuk membayarnya. Sedangkan daya yang dikeluarkan oleh lampu pijar, berupa energi cahaya yang membantu penglihatan kita. Bedakah?

Beda. Misalkan, ada sebuah lampu dengan daya 25 W, artinya lampu itu akan mengeluarkan energi per satuan waktu sebesar 25 joule. Tapi, daya yang diserap, tentunya memiliki nilai yang lebih besar dari itu, katakanlah 30 W. Walau kita beli lampu 25 W, tapi kita akan membayar daya sebesar 30 W, karena lampu itu menyerap 30 W.

Kenapa daya yang dikeluarkan lebih kecil dari yang diserap ?

Itu dikarenakan, selain menghasilkan cahaya, lampu pijar itu juga menghasilkan energi panas, yang tidak kita inginkan.

Makasih buat seseorang yang sudah memberitahu saya tentang hal ini. Dan kalau ternyata ada kekeliruan dalam uraian saya tadi, silakan dikomentari…


1 minggu ke depan akan menjadi minggu yang berat…

Semua masalah-masalah yang sebenarnya dulu pernah menghampiriku, kembali reuni di minggu ini.

Semakin ruwet ae uripku iki

suffer

Aku memang orang yang paling hobi menunda-nunda datangnya masalah, jadi ketika si masalah tadi dah orgasme, akhirnya ya aku sendiri yang kewalahan.

Pingin se, ngilangno kebiasaan burukku yang satu ini, tapi angel setengah mati…

Nyewa komik contohnya. Misalnya, udah tau, dan telat 2 hari batas minjemnya, tapi malasnya minta ampun hanya untuk mengembalikan komik di kios yang jaraknya cuma beberapa langkah dari kosku. Kelewatan tenan awakku iki.. Akhirnya, mpe sekarang ya belum aku balikin. Hmm, dendanya numpuk2 dan aku kesulitan membayarnya.

Pinjem buku perpus juga gitu. Dah 3 tahun belum aku kembalikan. Aku gak mau mbayangin dendanya (tuh, pengecut kan!!!). Bukunya pun udah ilang..

Kapan aku bisa belajar mengembalikan buku yang benar

Kapan aku bisa belajar menjaga benda yang aku pinjam

Kapan aku bisa belajar bertanggung jawab

Kapan aku bisa belajar tidak lari dari masalah

Huhh, bosan aku dgn diriku yg seperti ini. Pingin rasanya jadi orang lain saja.

.

.

.

Atau, aku mungkin tetap jadi diri sendiri, hanya saja yang lebih baik dari sekarang

Tapi, kapan ??????????????????????????????????????????????????????????????????

F**K