Orang sukses VS Orang sugih
Obrolan ini terjadi di kos-kosanku.
Cikem says … Wuih, yo opo yo rasane dadi wong sukses iku ? (artinya: Wuih, gimana ya rasanya jadi orang sukses iku?)
Temanku say lek aku yo mending dadi wong sugih, akeh duite… (artinya: Kalo aku ya lebih milih jadi orang kaya)
Cikem says … Loh, emang opo bedane wong sukses karo wong sugih (artinya: Loh, emangnya apa bedanya orang sukses dengan orang kaya?)
Temanku say yo mesti bedo lah. Lapo milih sukses ? Sukses iku lo durung mesti sugih… (artinya: Ya mesti bedalah. Kenapa milih sukses? Sukses itu lo belum tentu kaya)
Cikem says Loh, ora iso. Lapo milih sugih? Wong korupsi iku sugih, tapi gak sukses… (artinya: Loh, gak bisa. Kenapa milih kaya? Orang korupsi itu kaya, tapi nggak sukses)
(bla..bla.. obrolan akhirnya berlanjut dengan ngelantur dan ngawur)
Dalam hati, aku sedikit tergiur juga dengan pendapat temanku tentang orang sugih tadi. Memang, keduanya memiliki parameter yang berbeda. Kata sukses lebih mengarah pada tercapai atau tidaknya sebuah tujuan, mimpi dan cita-cita seseorang. Sedangkan, kata sugih lebih cenderung mengarah pada materi, harta benda atau uang. Tapi keduanya juga dapat berkombinasi loh. Misalnya, bagaimana jika tujuan hidup seseorang ternyata adalah ingin sugih ? Nah lo, bingung juga kan ?
Sebuah jawaban standart : Sugih itu adalah efek dari sebuah kesuksesan. Really ?
Hmm, mungkin ilmu tautologi mulai bisa kita terapkan di sini.
Premis 1 : p => q ( jika p, maka q)
Premis 2 : c = p
Konklusi : c = q
Jika kedua premis benar, maka akan menghasilkan conclusi yang benar. Jika salah satu salah, maka konklusi yang dihasilkan juga diragukan.
Misal
Premis 1 (sementara kita anggap benar) : Jika orang sukses, pasti kaya
Premis 2 : Bu Muslimah ( guru yang berhasil mencetak murid seperti Andrea Hirata, penulis Laskar Pelangi ) adalah orang yang sukses
Konklusi : Bu Muslimah pasti orang kaya.
Kenyataannya, beliau adalah seorang guru yang bersahaja. Jadi, kebenaran pernyataan “Jika orang sukses, pasti kaya” masih diragukan.
Ini jadi peringatan bagi orang-orang yang pingin sukses di dunia ini, karena tautologi di atas menunjukkan, kesuksesan tidak menjamin kekayaan loh. Kecuali, jika menurut Anda, dalam dunia ini ada yang lebih indah dari sekedar kekayaan.
Kenapa kebenaran kalimat Jika orang sukses, pasti kaya diragukan? Hmm, menurut saya, karena kedua hal tersebut berjalan sesuai dengan pilihan Anda, bukan sesuai logika Anda.
Selamat berproses Kawan…
(omong2, saya pingin jadi orang sukses yang kaya, eh orang kaya yang sukses, eh.. kok bingung lagi ya jadinya)
Filed under: sampah | 5 Komentar
yayaya….
sedikit menarik emang…
sukses di sini benernya bisa dibedakan bermacam2.
contoh..
dia sukses menjadi guru yang hebat(ilmu yang di prioritaskan)
dia sukse menjadi pejabat(ketenaran)
dia sukses mencari uang(pasti orang kaya)
btw kem jeneng aq Alfian Yuda P. oke.
Alfian Yudha> alfian : kaya itu juga bermacam2 loh. Contoh, kaya artis (itu aku), kaya monyet (itu kamu). Keep to ngoceh di sini ya bro..
Alfian Yudha P.
P=Penis ta ??
peace ^_^
ambiguitas (opo maksudnya kata ini? saya tiba2 dapat ilham untuk mengetiknya)
apakah orang sukses sudah pasti kaya? eit..sukses apa dulu? sukses membobol rumah orang atau sukses nyolong duit rakyat?
orang kaya sudah pasti sukses? eit..kaya hasil apa dulu? kaya hasil nyolong? atau kaya memang dari usaha sendiri?
kalau menurutku kondisi dimana orang sukses pasti kaya, jika ada suatu kondisi lagi, yaitu perjuangan atau proses menuju kekayaan itu. jika orang itu kaya menuju proses2 tertentu, orang itu dianggap sukses.
eit..proses apa dulu? saya sih ngga cocok kerja di air..wah kem,, jadi mbulet ae (padahal aku ndiri yang mbulet)
blognya bagus, apalagi headernya, keep blogging yo!
sepengertian saya… orang yang sukses adalah orang yang sadar dan mau mengakui apapun hasil dari proses yang dia kerjakan…
soal kaya atau tidak.. seperti banyak orang bilang… materi bisa dicari… hehehe
Hoky Sugih Kawruh lebih penting dari Sugih ( harta ) meskipun kita juga harus realistis bahwa harta / materi itu juga penting meskipun bukan segalanya