Seperti biasa, kau tak menganggap aku

Padahal kau sempat membalas tajam tatapanku

Membiarkan aku dalam kebisuan yang semakin tak aku mengerti

Kenapa dengan sikapmu hari ini

Aku ingin menyapa

Aku ingin kau anggap ada

Walau kita hidup di jaman yang berbeda

Dan waktu yang berjeda-jeda

Salahkah aku menuruti kata emakku

Yang tak ingin lama-lama di sini

Hingga tak berat bebannya

Menanggung hidup adik-adikku nanti

Selalu kau bilang tak ada yang salah

Ini hanya karena jaman yang telah berubah

Hingga akhirnya kau bangga dengan duniamu,

dan aku terlena dalam duniaku

padahal kita dulu adalah satu

seperti biasa, kau tak menganggap aku

padahal aku sudah berdiri tepat

di belakangmu



One Response to “seperti biasa…”  

  1. .

    dari mana datangnya idealisme?
    – dari sebutir telur bernama mitologis –

    dari mana datangnya diam?
    – dari sekeping rasa sesal yang tak tersembuhkan —

    .


Leave a Reply