Archive Page 2
Orang sukses VS Orang sugih
Obrolan ini terjadi di kos-kosanku.
Cikem says … Wuih, yo opo yo rasane dadi wong sukses iku ? (artinya: Wuih, gimana ya rasanya jadi orang sukses iku?)
Temanku say lek aku yo mending dadi wong sugih, akeh duite… (artinya: Kalo aku ya lebih milih jadi orang kaya)
Cikem says … Loh, emang opo bedane wong sukses karo wong sugih (artinya: Loh, emangnya apa bedanya orang sukses dengan orang kaya?)
Temanku say yo mesti bedo lah. Lapo milih sukses ? Sukses iku lo durung mesti sugih… (artinya: Ya mesti bedalah. Kenapa milih sukses? Sukses itu lo belum tentu kaya)
Cikem says Loh, ora iso. Lapo milih sugih? Wong korupsi iku sugih, tapi gak sukses… (artinya: Loh, gak bisa. Kenapa milih kaya? Orang korupsi itu kaya, tapi nggak sukses)
(bla..bla.. obrolan akhirnya berlanjut dengan ngelantur dan ngawur)
Dalam hati, aku sedikit tergiur juga dengan pendapat temanku tentang orang sugih tadi. Memang, keduanya memiliki parameter yang berbeda. Kata sukses lebih mengarah pada tercapai atau tidaknya sebuah tujuan, mimpi dan cita-cita seseorang. Sedangkan, kata sugih lebih cenderung mengarah pada materi, harta benda atau uang. Tapi keduanya juga dapat berkombinasi loh. Misalnya, bagaimana jika tujuan hidup seseorang ternyata adalah ingin sugih ? Nah lo, bingung juga kan ?
Sebuah jawaban standart : Sugih itu adalah efek dari sebuah kesuksesan. Really ?
Hmm, mungkin ilmu tautologi mulai bisa kita terapkan di sini.
Premis 1 : p => q ( jika p, maka q)
Premis 2 : c = p
Konklusi : c = q
Jika kedua premis benar, maka akan menghasilkan conclusi yang benar. Jika salah satu salah, maka konklusi yang dihasilkan juga diragukan.
Misal
Premis 1 (sementara kita anggap benar) : Jika orang sukses, pasti kaya
Premis 2 : Bu Muslimah ( guru yang berhasil mencetak murid seperti Andrea Hirata, penulis Laskar Pelangi ) adalah orang yang sukses
Konklusi : Bu Muslimah pasti orang kaya.
Kenyataannya, beliau adalah seorang guru yang bersahaja. Jadi, kebenaran pernyataan “Jika orang sukses, pasti kaya” masih diragukan.
Ini jadi peringatan bagi orang-orang yang pingin sukses di dunia ini, karena tautologi di atas menunjukkan, kesuksesan tidak menjamin kekayaan loh. Kecuali, jika menurut Anda, dalam dunia ini ada yang lebih indah dari sekedar kekayaan.
Kenapa kebenaran kalimat Jika orang sukses, pasti kaya diragukan? Hmm, menurut saya, karena kedua hal tersebut berjalan sesuai dengan pilihan Anda, bukan sesuai logika Anda.
Selamat berproses Kawan…
(omong2, saya pingin jadi orang sukses yang kaya, eh orang kaya yang sukses, eh.. kok bingung lagi ya jadinya)
Filed under: sampah | 5 Comments
Dear God
Malang, 3 November 2008
Kepada YME Tuhanku
di mana engkau berada ?
Dear God,
Sudah terlalu lama kita tidak berjumpa. Semoga Engkau masih ingat denganku, karena sesuai janji-Mu, Kau tidak akan pernah meninggalkan aku, dan aku tahu Kau selalu menepati janji-Mu. Kadang malu diri ini saat tak bisa memegang janji seorang manusia kepada Penciptanya. Kabarku tidak terlalu baik, tapi tidak usah terlalu Engkau pikirkan, karena aku sudah cukup bersyukur telah Kau anugerahi akal dan pikiran yang dapat membuatku berpikir mana yang benar dan mana yang salah. Tapi, maaf, sekali lagi maaf, kadang kabut tipis pun sanggup membutakan diriku, sehingga hal yang keliru ku anggap benar selalu.
Tuhan, aku mempunyai sebuah pertanyaan. Mungkin sedikit lancang, tapi tolong jangan Kau hukum aku, karena ini hanya sebuah pertanyaan, tidak Kau jawab pun tidak apa-apa, karena apalah diriku jika dibandingkan dengan diri-Mu.
Sebetulnya, mana yang benar :
Aku yang mencari-Mu atau Engkau yang mencariku ?
Saat aku mencari-Mu, aku tertuju pada sebuah kata “kesempurnaan”, tapi kalau Engkau mau mencariku, telusurilah sebuah kata “kenistaan”.
Tak perlu Kau jawab, jika Kau menganggap pertanyaanku ini terlalu lancang. Banyak orang yang mengangapku bodoh dengan pertanyaanku tadi, seperti halnya orang yang membaca postingan ini, aku tahu itu.
Atau, mungkin lebih baik, aku bertanya pada diriku sendiri. Karena aku yakin, di rumitnya susunan organ tubuhku, Engkau selalu bersemayam di dalam hatiku. Semoga…
Oya, kutunggu surat balasan-Mu.
Dari
hamba-Mu Yang Maha Dosa
(hahaha,… Aku tau, Kau pasti sudah bisa mengerti isi hatiku sebelum kumenuliskannya)
Filed under: Tak Berkategori | Leave a Comment
Cinta… (bag 1)
Di sebuah warung pojok, di suatu malam yang tak begitu terang, saya dan beberapa orang teman, mencoba mengisi waktu dengan men-sruput secangkir kopi dan menggilir sebatang rokok Surya (Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin).
Pembicaraan kami bermula dari sebuah obrolan berat, yaitu tentang calon presiden mendatang, kelakuan syekh Puji yang menikahi gadis di bawah umur, nasib sebenk yang masih jomblo mpe sekarang, membandingkan agama-agama, apa yang ditampilkan saat penutupan Ponsel (Pekan dan Seni Elektro) 2008 dan akhirnya sampailah pada suatu topik yang dapat mengkonekkan kami semua, yaitu cinta.
Ada seorang teman saya yang mengeluarkan kalimat yang sungguh indah tentang cinta. Kayanya cocok bagi orang yang akan mengungkapkan cinta, atau butuh jurus rayuan gombal untuk membuat pasangannya melayang-layang. Kira-kira begini kalimatnya :
(1)
“Walaupun aku tidak suka musim gugur, tapi aku tetap suka melihat daun-daun yang berguguran
Walupun aku tidak suka musim salju, tapi aku tetap suka melihat salju yang putih dan bersih
Walaupun aku tidak suka musim kemarau, tapi aku tetap suka melihat perkasanya matahari
Walaupun aku tidak suka masim semi, tapi aku tetap suka melihat daun-daun tumbuh dan bunga-bunga mekar
Walaupun aku tidak suka dunia, tapi aku tetap mencintaimu”.
(2)
“JIka ada 10 orang yang mencintaimu, maka aku pasti salah satunya
JIka ada 100 orang yang mencintaimu, maka aku pasti salah satunya
JIka ada 1000 orang yang mencintaimu, maka aku pasti salah satunya
Namun,
jIka tidak ada lagi orang yang mencintaimu, maka aku pasti sudah mati,
karena aku tetap mencintaimu”
Semoga bermanfaat ^_^
Filed under: Tak Berkategori | 1 Comment
Tahun ini, kayanya angkatan saya, tak sedahsyat tahun-tahun yang lalu. Bak macan yang ompong, kami mendapat kekalahan demi kekalahan yang telak pada pertandingan futsal, yang biasanya selalu kami menangi pada tahun-tahun sebelumnya. Pada pertandingan pertama, team A (satu angkatan dibagi 2 team), kalah telak 6-3 melawan angkatan 2004. Disusul kekalahan berikutnya, 6-3 saat ,melawan satu angkatan yang sebetulnya tidak punya kans untuk menang sama sekali, yaitu 2006, hehehe (peace…). Tapi, ternyata, lapangan memiliki kehendak lain.
Padahal, semula, saya sudah gembar-gembor kalau bakal mengulang kemenangan tahun lalu, dan membawa pulang banyak piala. Tapi, kayanya, tahun ini, angkatan saya bakal mengalamai krisis piala.
Kecewakah? Sakit hatikah?
Tidak,
karena angkatan saya kini sudah mulai sedikit dewasa. Itulah yang membuat di setiap akhir kekalahan, kami selalu bisa tetap bercanda tawa, dan terbahak-bahak. Kami selalu keluar lapangan dengan kepala yang tegak. Dibandingkan tahun-tahun yang lalu. Setiap angkatanku mengikuti pertandingan futsal, suasana berubah sedikit berbeda. Was-was, dan berharap-harap cemas. Namun, kini tidak lagi. Kita masih bisa tersenyum di sebelum, saat dan sesudah pertandingan.Percayalah kawan, senyuman tadi harganya jauh lebih mahal dibandingkan kemenangan pada cabang pertandingan apa pun.
Semoga, kebesaran hati kita, mengantarkan kita pada pintu kemenangan yang lain. Karena di dunia ini, masih banyak yang bisa kita menangkan selain pertandingan futsal. Setidaknya, pertandingan melawan ego kita.
Selamat berjuang teman-teman. Aku bangga pada kalian…
Hidup Elektro !!!
Filed under: Tak Berkategori | 1 Comment
aku dan elektro
Tiga tahun berlalu begitu cepat. Padahal saya masih ingat saat pakaian putih-putih menjadi baju kebesaran tiap hari, dan nasi teknik menjadi makanan favorit tiap kali. Saya juga masih ingat, betapa polosnya diri ini di awal-awal semester. Terkejut dengan segala kondisi yang begitu berbeda dibandingkan SMA. Teman baru, pelajaran baru, guru baru, sistem baru, dan motivasi baru. Tapi, ‘yang baru-baru’ tadi, kini sudah menjadi ‘yang dulu-dulu’. Waktu telah mengantarkan aku di dimensi saat ini, menit ini, dan detik ini, saat aku menuliskan kalimat ini, di tempat ini.
Kampus adalah suatu kehidupan yang memiliki dinamika yang begitu cepat, mahasiswanya, sistemnya, gaya hidupnya, pemikirannya, dan juga SPP-nya. Dan saya adalah salah satu korbannya.
Dulu, saat SMA, percaya atau tidak, saya termasuk orang yang tidak terlalu tertarik dengan hal-hal yang berbau OSIS. Secara (meminjam bahasa gaul saat ini), teman-teman OSIS seringkali meninggalkan pelajaran akibat terlalu banyak mengurusi kegiatan sekolah. Dan, aku menganggap pengorbanan mereka itu sangat bodoh, tapi kusimpan pendapatku tadi dalam hati, sambil terus melahap buku-buku pelajaran sekolah agar prestasiku naik.
Dan, kayanya aku kualat saat menjadi mahasiswa. Bak menerima hukum karma, kini aku secara sengaja, berada di posisi orang-orang yang dulu selalu aku underestimate-kan. Kini, aku yang dianggap bodoh saat sering meninggalkan kuliah akibat sering mengurusi kegiatan himpunan. Hahaha… Hidup ini memang aneh. Kadangkala, kita harus memerankan sesuatu yang bukan diri kita sendiri, atau lebih tepatnya, tetap menjadi diri kita sendiri, hanya saja menjadi yang lebih baik.
Kini saya sadar, bahwa masih banyak yang dipelajari di dalam hidup yang demikian singkat ini. Dan saya berterima kasih untuk elektro ini, yang telah membuka mata yang semula tertutup, dan hati yang semula terkunci. Semoga ke depan, banyak pihak yang sadar, bahwa banyak hal yang sangat berarti dan patut dipelajari, saat menjadi seorang mahasiswa. Karena, percayalah, tak semua orang memiliki nasib seberuntung kita.
Selamat Ulang Tahun yang ke-30 untuk Teknik Elektro FT-UB
Filed under: Tak Berkategori | Leave a Comment
Hampir 3 minggu ini, area depan 21 Matos selalu padat oleh para remaja, orang dewasa bahkan para orang tua yang sekedar menemani anaknya. BUkan untuk antri sembako, atau bagi-bagi zakat, tapi hendak menonton sebuah visualisasi sebuah novel yang cukup booming akhir-akhir ini, yakni Laskar Pelangi.
Wah, kayanya heboh banget film yang satu ini, apalagi ditambah komentar-komentar teman-teman yang cukup menggebu-gebu dan bernafsu saat menceritakan kembali alur filmnya. STOP, jangan bercerita ke aku sekarang, mending aku lihat sendiri daripada mendengar cerita kalian, pikirku.
Akhirnya, hari Rabu aku memutuskan untuk menyaksikan keganasan film ini. Oiya, sekedar catatan, aku belum pernah menyentuh novelnya sama sekali. Masalah tiket, aku sudah titip ke teman kosku yang kebetulan juga mau nonton.
– film mulai diputar, dan akhirnya selesai –
Tak banyak film Indonesia yang masuk kategori sangar dalam databaseku. Menurutku, film ini, mengingatkanku dengan filmnya om Deddy Mizwar, Nagabonar Jadi 2. Ada beberapa poin yang menjadi dasar penilaianku dalam mengatakan bagus tidaknya sebuah film :
1. pesan yang mau disampaikan.
2. permainan emosi di dalamnya.
3. karakter yang kuat pada pemainnya. Yang terakhir ini salah satunya bisa di-create dari bahasa yang digunakan.
Pada awalnya, aku datang bukan sebagai penonton pada umumnya, aku lebih cenderung menjadi seorang juri yang akan menilai dan mengkritik film ini, tapi toh, kekuatan film ini, justru memaksaku untuk menikmati alur ceritanya.
Setiap pemain, diberi sebuah karakter yang sangat khas. Harun contohnya, tau kan yang mana si Harun itu ? Dia adalah tokoh favorit saya, walaupun dia bukan superstar di film itu. But, he’s just different than else.
Saya juga tertarik pada pemilihan bahasa yang digunakan. Bener-bener mencerminkan orang yang katrok sekali. Saya sangat merasa janggal saja, saat melihat film-film di televisi yang mengambil setting kerajaan kuno Nusantara, tapi menggunakan bahasa Indonesia yang sesuai dengan EYD. Tapi film ini, begitu percaya diri ketika mengangkat bahasa daerah (kayanya bahasa Belitong asli ya??), menjadi bahasa utama dalam film ini, sehingga kesannya tetap orisinil.
Yang paling menarik, adalah tulisan yang tampil di saat film selesai.
“Setiap warga negara, berhak mendapatkan pendidikan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan”.
Filed under: Tak Berkategori | Leave a Comment


